TEMBILAHAN – Kemeriahan syiar Islam terpancar dalam perhelatan Festival Banjari dan Habsyi se-Provinsi Riau yang dipusatkan di Tembilahan. Kegiatan yang berlangsung sejak 1 Januari tersebut resmi ditutup dengan khidmat, sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Minggu (4/1/2026).
Mewakili Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Sekretaris Daerah (Sekda) Inhil, Tantawi Jauhari, hadir langsung menutup rangkaian acara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga dan haru atas antusiasme luar biasa dari masyarakat serta para peserta yang hadir dari berbagai daerah.
Menembus Batas Wilayah
Festival ini tercatat diikuti oleh sekitar 600 peserta yang terdiri dari kalangan pelajar, santri, hingga remaja masjid. Menariknya, peserta tidak hanya datang dari kabupaten di Riau seperti Kampar, tetapi juga merambah hingga ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
Sekda Tantawi Jauhari menilai seni Banjari dan Habsyi memiliki kekuatan unik yang mampu menyatukan keberagaman tradisi Islam antar-wilayah.
“Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi merupakan wadah untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kreativitas, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni Islami,” ungkap Tantawi Jauhari.
Pelestarian Budaya dan Nilai Spiritual
Pemerintah Kabupaten Inhil berharap agar seni religius ini terus dilestarikan sebagai warisan budaya Islam yang bernilai tinggi. Selain sebagai ajang unjuk bakat, festival ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keislaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya soal seni, momentum ini juga dimanfaatkan untuk merefleksikan hikmah Isra Mi’raj. Sekda mengajak seluruh hadirin untuk merenungi perintah shalat sebagai landasan moral utama.
“Melalui perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung untuk melaksanakan shalat lima waktu. Ini adalah kewajiban utama yang harus menjadi tiang agama dalam setiap aktivitas kita,” tambahnya.
Pererat Silaturahmi Antar-Daerah
Suksesnya penyelenggaraan festival ini diharapkan menjadi jembatan silaturahmi yang kokoh antar-peserta dari berbagai daerah. Dengan adanya pertukaran pengalaman dan persahabatan, seni islami di Negeri Seribu Parit diharapkan semakin berkembang dan dikenal luas.
